No, you a re right.
FYI, walaupun namanya Demokrasi Pancasila, maksud dari kata Pancasila itu sendiri sebenarnya hanya sebutan Om Soekarno saja, dalam praktiknya sampai sekarang di mata internasional berupa Demokrasi Kolonialis, tapi lebih ditekankan kepada konsep Demokrasi.
Kenyataannya di Indonesia sekarang:
Tukar kata "rakyat" dengan "wakil rakyat" dan ganti kata "hukum" dengan "uang"
. Ya tetapi kamu lupa akan poin penting yang ditonjolkan media yaitu berupa penyampaian pesan.
e.g. search di Ugle mengenai kasus apapun yang terjadi sekarang (selain korupsi karena banyak kesan subjektif) cerita dan isi berbeda-beda tetapi memiliki inti yang sama.
Budi tertabrak truk es krim di jalan, ada kisah yang mengatakan Budi sempat menabrak truk es krim itu, atau Budi membeli es krim lalu tidak membayar, atau rumor si tukang truk es krim psikopat yang memakai topeng badut dan kepalanya terbakar. Tetapi intinya satu, Budi tertabrak truk es krim.
Not quite, kecuali kamu memang orang yang sangat nasionalis.
Disini tanggapan mereka (para pelawak) kepada pemirsa berupa "kami hanya bercanda, bila lucu tertawalah, bila tidak maka terima kasih sudah menonton tapi jangan dimasukan ke hati."
Yang merasa tersinggung, bisa melihat iklan yang selalu muncul sebelum tayangan dimulai.
'Acara ini hanya berupa bla bla bla....'